Jumat, 27 Maret 2015

Pengertian BOD, COD dan TSS pada Limbah

Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), and Total Suspended Solid (TSS) sebagai Indikator Limbah Cair

Air limbah adalah air yang bercampur zat padat (dissolved dan suspended) yang berasal dari kegiatan rumah tangga, pertanian, perdagangan dan industri. Oleh karena itu, dipastikan bahwa air buangan atau air limbah industri bisa menjadi salah satu penyebab air tercemar jika tidak diolah sebelum dibuang ke badan air.
Komposisi air limbah sebagian besar terdiri dari air (99,9 %) dan sisanya terdiri dari partikel-partikel padat terlarut (dissolved solid) dan tersuspensi (suspended solid) sebesar 0,1 %.
Partikel-partikel padat terdiri dari :
·         Zat organik (± 70 %)
o   Protein (± 65 %)
o   Karbohidrat (± 25 %)
o   Lemak (± 10 %).
o    
·         Zat anorganik (± 30 %)
o   Protein (± 65 %)
o   Karbohidrat (± 25 %)
o   Lemak (± 10 %).
v  Zat-zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (biodegradable) yang merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi bakteri dan mikroorganisme lain.
v  Zat-zat anorganik terdiri dari grit, salts dan metals (logam berat) yang merupakan bahan pencemar yang penting. Solids (dissolved dan suspended) sangat cocok untuk menempel dan bersembunyinya mikroorganisme baik yang bersifat saprophit mau pun pathogen .
Terdapat beberapa parameter yang umum digunakan sebagai indikator kualitas air limbah diantaranya adalah (Alaerts dan Santika, 1987) :

BOD (Biological Oxygen Demand)

BOD merupakan parameter pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bekteri untuk mengurai hampir semua zat organik yang terlarut dan tersuspensi dalam air buangan, dinyatakan dengan BOD5 hari pada suhu 20 °C dalam mg/liter atau ppm. Pemeriksaan BOD5 diperlukan untuk menentukan beban pencemaran terhadap air buangan domestik atau industri juga untuk mendesain sistem pengolahan limbah biologis bagi air tercemar. Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, jika suatu badan air tercemar oleh zat organik maka bakteri akan dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses biodegradable berlangsung, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada biota air dan keadaan pada badan air dapat menjadi anaerobik yang ditandai dengan timbulnya bau busuk.


COD (Chemical Oxygen Demand)

COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair dengan memanfaatkan oksidator kalium dikromat sebagai sumber oksigen. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses biologis dan dapat menyebabkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air.

TSS (Total Susppended Solid)

Zat yang tersuspensi biasanya terdiri dari zat organik dan anorganik yang melayang-layang dalam air, secara fisika zat ini sebagai penyebab kekeruhan pada air. Limbah cair yang mempunyai kandungan zat tersuspensi tinggi tidak boleh dibuang langsung ke badan air karena disamping dapat menyebabkan pendangkalan juga dapat menghalangi sinar matahari masuk kedalam dasar air sehingga proses fotosintesa mikroorganisme tidak dapat berlangsung.
Total Suspended Solid atau padatan tersuspensi total (TSS) adalah residu dari padatan total yang tertahan oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2μm atau lebih besar dari ukuran partikel koloid. Yang termasuk TSS adalah :
a.            Lumpur,
b.            Tanah liat,
c.             Logam oksida,
d.            Sulfida,
e.            Ganggang,
f.             Bakteri dan jamur.

TSS umumnya dihilangkan dengan flokulasi dan penyaringan. TSS memberikan kontribusi untuk kekeruhan (turbidity) dengan membatasi penetrasi cahaya untuk fotosintesis dan visibilitas di perairan. Sehingga nilai kekeruhan tidak dapat dikonversi ke nilai TSS. Kekeruhan adalah kecenderungan ukuran sampel untuk menyebarkan cahaya. Sementara hamburan diproduksi oleh adanya partikel tersuspensi dalam sampel. Kekeruhan adalah murni sebuah sifat optik. Pola dan intensitas sebaran akan berbeda akibat perubahan dengan ukuran dan bentuk partikel serta materi. Sebuah sampel yang mengandung 1.000 mg / L dari fine talcum powder akan memberikan pembacaan yang berbeda kekeruhan dari sampel yang mengandung 1.000 mg / L coarsely ground talc . Kedua sampel juga akan memiliki pembacaan yang berbeda kekeruhan dari sampel mengandung 1.000 mg / L ground pepper.  Meskipun tiga sampel tersebut mengandung nilai TSS yang sama.

Perbedaan antara padatan tersuspensi total (TSS) dan padatan terlarut total  (TDS) adalah berdasarkan prosedur penyaringan. Padatan selalu diukur sebagai berat kering dan prosedur pengeringan harus diperhatikan untuk menghindari kesalahan yang disebabkan oleh kelembaban yang tertahan atau kehilangan bahan akibat penguapan atau oksidasi.

Prinsip analisa TSS sebagai berikut :

Contoh uji yang telah homogen disaring dengan kertas saring yang telah ditimbang. Residu yang tertahan pada saringan dikeringkan sampai mencapai berat konstan pada suhu 103ºC sampai dengan 105ºC. Kenaikan berat saringan mewakili padatan tersuspensi total (TSS). Jika padatan tersuspensi menghambat saringan dan memperlama penyaringan, diameter pori-pori saringan perlu diperbesar atau mengurangi volume contoh uji. Untuk memperoleh estimasi TSS, dihitung perbedaan antara padatan terlarut total dan padatan total.
   
  TSS (mg/L) = (A-B) X 1000 / V

Dengan pengertian
A = berat kertas saring + residu kering (mg)
B = berat kertas saring (mg)

V = volume contoh (mL)


Semoga bermanfaat buat kita semua. Jangan lupa kepedulian anda dalam mengelola limbah di lingkungan sekitar sangat berarti bagi kelestarian bumi pertiwi Indonesia. Untuk hasil lebih baik, dalam mengelola sampah, limbah industri, limbah rumah sakit, limbah Hotel, limbah Mal, pembuatan kompos, keperluan pertanian, Perikanan, Peternakan  dan sejenisnya coba gunakan Formula MP Pro - Mikrobakteri Pengurai Produktif, Murni organik  #MPPRO




 *diolah dari berbagai sumber dan referensi 

Minggu, 25 Mei 2014

Sampahmu, Gaya Hidupmu

Bau busuk menusuk hidung ketika seseorang melewati tempat penampungan sampah, itulah aroma khas sampah kita. Ndak peduli sisa sampah orang kaya maupun orang miskin baunya sama, atau barangkali sampah orang miskin lebih menusuk baunya ? 

Apapun bentuk Sampahmu, itu mencerminkan perilaku atau gaya hidupmu. Sering liat kan, orang kaya, bermobil, sambil melintas tiba-tiba tisu bekas lap ingus (barangkali) dilempar lewat jendela mobilnya ? Atau puntung rokok, setelah sopir selesai ngisep rokoknya, maen lempar aja tuh puntung, padahal di dalam mobil sudah tersedia asbak ! Tapi kalian pernah juga kan melihat orang-orang yang peduli dengan sampah ? Ibarat kata, makan permen saja, bungkusnya disimpan lagi, dan akan dibuang ketika menemukan tempat sampah. Dan masih banyak contoh positif soal gaya hidup yang berkaitan dengan sampah. Tetapi banyak juga contoh negatif yang Ndak perlu ditiru yang kadang jelas terlihat oleh mata kita.

Kasihan banget sama yang namanya Sampah, sudah bau jarang ada yang peduli. Padahal kita-kita semua tuh yang memproduksi sampah, terus mau dikemanain nih sampah ? Kalau semua pada cuci tangan ? Atau dibiarkan sampah bertebaran kemana dia mau ?

Coba kita pikir, sampah ada karena kita, terus kita yang membuat sampah setiap harinya tidak merasa bersalah ketika sampah tidak bisa terurai dengan baik dan berdampak ke lingkungan sekitar. Bahkan kita tidak merasa berdosa sedikitpun ketika sampah plastik yang kita buang ternyata membutuhkan waktu ratusan tahun untuk dapat terurai ? Atau sampah beracun yang kita buang ternyata dapat meracuni bumi tercinta ini ? Sadarkah kita ? Terus ketika bumi pertiwi ini memberontak, melakukan perlawanan dengan enteng kita semua menjawab, gara-gara sampah jadi banjir. Bukankah banjir itu ada karena debit air yang berlebih ? Iya betul....tapi sampahnya bikin mampet ! Nah kalau itu masalahnya berarti Gaya Hidup kita yang perlu di ubah dalam menyikapi sampah. Mari sadarkan diri, bahwa Sampahmu adalah gaya hidupmu, dan sampai pembuangan terakhir pun bagian dari tanggung jawabmu.