Biological Oxygen Demand (BOD),
Chemical Oxygen Demand (COD), and Total Suspended Solid (TSS) sebagai Indikator
Limbah Cair
Air limbah adalah air yang
bercampur zat padat (dissolved dan
suspended) yang berasal dari kegiatan rumah tangga, pertanian, perdagangan
dan industri. Oleh karena itu, dipastikan bahwa air buangan atau air limbah
industri bisa menjadi salah satu penyebab air tercemar jika tidak diolah
sebelum dibuang ke badan air.
Komposisi air limbah sebagian
besar terdiri dari air (99,9 %) dan sisanya terdiri dari partikel-partikel
padat terlarut (dissolved solid) dan
tersuspensi (suspended solid) sebesar
0,1 %.
·
Zat
organik (± 70 %)
o
Protein (± 65 %)
o
Karbohidrat (± 25 %)
o
Lemak (± 10 %).
o
·
Zat
anorganik (± 30 %)
o
Protein (± 65 %)
o
Karbohidrat (± 25 %)
o
Lemak (± 10 %).
v
Zat-zat organik tersebut sebagian besar mudah
terurai (biodegradable) yang
merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi bakteri dan mikroorganisme lain.
v
Zat-zat anorganik terdiri dari grit, salts dan
metals (logam berat) yang merupakan bahan pencemar yang penting. Solids (dissolved dan suspended) sangat cocok untuk menempel dan bersembunyinya
mikroorganisme baik yang bersifat saprophit
mau pun pathogen .
Terdapat beberapa parameter yang
umum digunakan sebagai indikator kualitas air limbah diantaranya adalah
(Alaerts dan Santika, 1987) :
BOD (Biological Oxygen Demand)
BOD merupakan parameter
pengukuran jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bekteri untuk mengurai hampir
semua zat organik yang terlarut dan tersuspensi dalam air buangan, dinyatakan
dengan BOD5 hari pada suhu 20 °C dalam mg/liter atau ppm. Pemeriksaan BOD5
diperlukan untuk menentukan beban pencemaran terhadap air buangan domestik atau
industri juga untuk mendesain sistem pengolahan limbah biologis bagi air
tercemar. Penguraian zat organik adalah peristiwa alamiah, jika suatu badan air
tercemar oleh zat organik maka bakteri akan dapat menghabiskan oksigen terlarut
dalam air selama proses biodegradable
berlangsung, sehingga dapat mengakibatkan kematian pada biota air dan keadaan
pada badan air dapat menjadi anaerobik yang ditandai dengan timbulnya bau
busuk.
COD (Chemical Oxygen Demand)
COD adalah jumlah oksigen yang
dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair
dengan memanfaatkan oksidator kalium dikromat sebagai sumber oksigen. Angka COD
merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik yang secara alamiah dapat
dioksidasi melalui proses biologis dan dapat menyebabkan berkurangnya oksigen
terlarut dalam air.
TSS (Total Susppended Solid)
Zat yang tersuspensi biasanya
terdiri dari zat organik dan anorganik yang melayang-layang dalam air, secara
fisika zat ini sebagai penyebab kekeruhan pada air. Limbah cair yang mempunyai
kandungan zat tersuspensi tinggi tidak boleh dibuang langsung ke badan air
karena disamping dapat menyebabkan pendangkalan juga dapat menghalangi sinar
matahari masuk kedalam dasar air sehingga proses fotosintesa mikroorganisme
tidak dapat berlangsung.
Total Suspended Solid atau
padatan tersuspensi total (TSS) adalah residu dari padatan total yang tertahan
oleh saringan dengan ukuran partikel maksimal 2μm atau lebih besar dari ukuran
partikel koloid. Yang termasuk TSS adalah :
a. Lumpur,
b. Tanah liat,
c. Logam oksida,
d. Sulfida,
e. Ganggang,
f. Bakteri dan jamur.
TSS umumnya dihilangkan dengan
flokulasi dan penyaringan. TSS memberikan kontribusi untuk kekeruhan
(turbidity) dengan membatasi penetrasi cahaya untuk fotosintesis dan visibilitas
di perairan. Sehingga nilai kekeruhan tidak dapat dikonversi ke nilai TSS.
Kekeruhan adalah kecenderungan ukuran sampel untuk menyebarkan cahaya.
Sementara hamburan diproduksi oleh adanya partikel tersuspensi dalam sampel.
Kekeruhan adalah murni sebuah sifat optik. Pola dan intensitas sebaran akan
berbeda akibat perubahan dengan ukuran dan bentuk partikel serta materi. Sebuah
sampel yang mengandung 1.000 mg / L dari fine talcum powder akan memberikan
pembacaan yang berbeda kekeruhan dari sampel yang mengandung 1.000 mg / L
coarsely ground talc . Kedua sampel juga akan memiliki pembacaan yang berbeda
kekeruhan dari sampel mengandung 1.000 mg / L ground pepper. Meskipun tiga sampel tersebut mengandung
nilai TSS yang sama.
Perbedaan antara padatan tersuspensi
total (TSS) dan padatan terlarut total
(TDS) adalah berdasarkan prosedur penyaringan. Padatan selalu diukur
sebagai berat kering dan prosedur pengeringan harus diperhatikan untuk
menghindari kesalahan yang disebabkan oleh kelembaban yang tertahan atau
kehilangan bahan akibat penguapan atau oksidasi.
Prinsip analisa TSS sebagai
berikut :
Contoh uji yang telah homogen
disaring dengan kertas saring yang telah ditimbang. Residu yang tertahan pada
saringan dikeringkan sampai mencapai berat konstan pada suhu 103ºC sampai
dengan 105ºC. Kenaikan berat saringan mewakili padatan tersuspensi total (TSS).
Jika padatan tersuspensi menghambat saringan dan memperlama penyaringan,
diameter pori-pori saringan perlu diperbesar atau mengurangi volume contoh uji.
Untuk memperoleh estimasi TSS, dihitung perbedaan antara padatan terlarut total
dan padatan total.
TSS (mg/L) = (A-B) X 1000 /
V
Dengan pengertian
A = berat kertas saring + residu
kering (mg)
B = berat kertas saring (mg)
V = volume contoh (mL)
Semoga bermanfaat buat kita semua. Jangan lupa kepedulian anda dalam mengelola limbah di lingkungan sekitar sangat berarti bagi kelestarian bumi pertiwi Indonesia. Untuk hasil lebih baik, dalam mengelola sampah, limbah industri, limbah rumah sakit, limbah Hotel, limbah Mal, pembuatan kompos, keperluan pertanian, Perikanan, Peternakan dan sejenisnya coba gunakan Formula MP Pro - Mikrobakteri Pengurai Produktif, Murni organik #MPPRO
*diolah dari berbagai sumber dan referensi

